Pembukaan PerkebunanSunting
Seiring waktu, kawasan sekitar perkebunan kopi di Goenoeng Goeroeh berkembang menjadi beberapa pemukiman kecil, salah-satunya adalah kampung
Tjikole. Pada tahun 1776, Bupati Tjiandjoer
Wiratanu VI membentuk Kepatihan Tjikole yang merupakan pendahulu dari Kabupaten Sukabumi saat ini. Kepatihan Tjikole terdiri dari enam distrik yaitu Distrik
Goenoeng Parang,
Tjimahi,
Tjiheoelang,
Tjitjoeroeg,
Djampang Koelon, dan
Djampang Tengah. Pusat kepatihannya berada di Tjikole, dikarenakan Tjikole dipandang memiliki lokasi yang sangat strategis untuk komunikasi antara Batavia dan Tjiandjoer yang saat itu merupakan ibukota dari Karesidenan Priangan.
Penggunaan nama SoekaboemiSunting
Nama "Soekaboemi" pertama kali digunakan di tanggal 13 Januari 1815 dalam catatan arsip
Hindia Belanda oleh
Andries Christoffel Johannes de Wilde, seorang ahli bedah dan administratur perkebunan kopi dan teh berkebangsaan Belanda (
Preanger Planter) yang membuka lahan perkebunan di Kepatihan Tjikole. Dalam laporan surveynya, De Wilde mencantumkan nama Soeka Boemi sebagai tempat ia menginap di Kepatihan Tjikole. De Wilde lalu mengirim surat kepada temannya
Nicolaus Engelhard[8] yang menjabat sebagai administrator Hindia Belanda,
[9] dimana ia meminta Engelhard untuk mengajukan penggantian nama Kepatihan Tjikole menjadi Kepatihan Soekaboemi kepada
Thomas Stamford Raffles, Gubernur
Hindia Belanda saat itu.
Terdapat dua pendapat mengenai asal nama Sukabumi yang digunakan oleh De Wilde. Pendapat pertama mengatakan bahwa nama Sukabumi berasal dari kata
Bahasa Sunda, yaitu
Suka dan
Bumen (Menetap) yang bermakna suatu kawasan yang disukai untuk menetap, dikarenakan iklim Sukabumi yang sejuk. Pendapat kedua mengatakan bahwa nama Sukabumi berasal dari kata
Bahasa Sanskerta, yaitu
Suka (kesenangan, kebahagiaan, kesukaan) dan
Bhumi (Bumi, Tanah) sehingga nama Sukabumi memiliki arti "Bumi yang disenangi" atau "Bumi yang disukai".
De Wilde sendiri lalu menjual kembali tanahnya di Soekaboemi kepada pemerintah
Hindia Belandapada tahun 1823.
[10] Lokasi strategis Soekaboemi diantara Batavia dan Bandoeng dan hasil buminya yang banyak menyumbang pemasukan bagi pemerintah Hindia Belanda merupakan faktor dibangunnya jalur kereta dari Boeitenzorg ke Soekaboemi yang terhubung pada tahun 1882. Jalur yang dibangun oleh perusahaan
Staatspoorwagen ini menjadi jantung distribusi dalam pengangkutan hasil bumi seperti teh, kopi, dan kina ke pelabuhan Tandjoeng Priok di Batavia.
Soekaboemi merupakan tempat percetakan surat kabar
keturunan Tionghoa pertama di Indonesia yaitu
Li Po pada tahun 1901 yang berbahasa Melayu-Tionghoa.
Kotapraja SoekaboemiSunting
Status Soekaboemi sebagai kota sendiri dimulai pada 1 April 1914, dimana pemerintahan Hindia Belanda meresmikan Soekaboemi sebagai
Gemeente (Kotapraja) dikarenakan populasi bangsa Eropa yang berdomisili cukup signifikan. Tanggal 1 April dipilih untuk memperingati kemenangan kelompok
Geuzen (leluhur bangsa Belanda) dalam merebut kota
Brielle dari tangan
Spanyol dalam
Perang Delapan Puluh Tahunyang terjadi pada 1 April 1572. Pemerintahan kota Soekaboemi sendiri baru terbentuk di pada 1 Mei 1926, dengan
burgemeester (wali kota) pertamanya
George François Rambonnet. Selama masa terbentuknya Kotapraja sampai ke pendudukan Jepang, terjadi pembangunan
Soekaboemi Treinstation (
Stasiun Sukabumi),
Moskee te Soekaboemi (Masjid Agung),
Pinkstergemeente (Gereja Pantekosta),
Rooms-katholieke kerk (Gereja Katolik Santo Yoseph),
Bethelkerk (Gereja Bethel),
Bataksche kerk (HKBP Pasundan),
Waterkrachtwerk Oebroeg (PLTA Ubrug),
Onderstation Lemboersitoe (Gardu induk Lembursitu), dan
Politieschool (Sekolah Pembentukan Perwira Polri).
[11][12][13]
Soekaboemi di era pendudukan JepangSunting